Hewan yang haram untuk dibunuh.
1. Ash-shurad
Shurad adalah burung berkepala besar dan berparuh besar, perutnya putih,
punggungnya hijau, memangsa serangga dan burung kecil. Burung ini lebih
besar dari burung pipit dan terkadang memangsa burung pipit.
2. Kodok/katak.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi saw beliau bersabda,
“Janganlah kalian membunuh katak!” (Shahih, dalam kitab Shahih al-Jami’
ash-Shaghir [7390]).
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman r.a, “Dilarang membunuh katak
dengan alasan untuk obat-obatan,” (Shahih, dalam kitab Shahih al-Jami’
ash-Shaghir [6971]).
3.Semut.
Khatabi dan Baghawi menegaskan bahwa semut di sini bukan semua jenis
semut, tapi semut Sulaimaniyah, yaitu semut besar yang tidak
membahayakan dan tidak menyerang manusia. Adapun semut-semut kecil yang
kadang termasuk wabah dan mengganggu serta menyerang manusia, maka boleh
dibunuh, tapi sebaiknya membunuh semut dengan cara tidak membakarnya,
karena ada hadist yang menegaskan bahwa yang berhak menyiksa dengan api
adalah Tuhan api. (HR Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud).
Larangan membunuh semut
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Rasulullah saw. bahwa seekor seekor semut pernah menggigit salah
seorang nabi. Nabi tersebut lalu memerintahkan untuk mendatangi sarang
semut dan membakarnya. Tetapi kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya:
Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih. (Shahih Muslim No.4157)
4.Burung Hud-hud (sejenis burung pelatuk).
Burung Hud-hud adalah burung yang pernah berdialog dengan Nabi Sulaiman.
Dan merupakan utusan Nabi Sulaiman yang menyampaikan surat kepada Ratu
Bilqis.
5. Lebah.
Kebanyakan ulama mengatakan hukum lebah sama dengan semut dengan
landasan hadist di atas, yaitu larangan membunuhnya dan larangan
memakannya. Namun para ulama menerangkan bahwa larangan membunuh lebah
karena menghasilkan madu yang berguna bagi manusia.
Kelima hewan ini haram dimakan. Dan semua hewan yang haram dibunuh
maka memakannyapun haram. Karena tidak mungkin seekor binatang bisa
dimakan kecuali setelah dibunuh.
6. Laba-laba. Binatang penolong
rasulullah ketika berada di dalam gua Tsur yang ditemani sahabat
sejatinya Abu Bakar. Di dalamnya Rasulullah beserta Abu Bakar tidak
henti-hentinya berzikir dan berdoa kepada Allah. Mereka bersembunyi dari
orang-orang kafir Quraisy. Orang-orang itu kemudian mendatangi mulut
gua untuk memastikan apakah benar nabi Muhammad dan Abu Bakar ada di
dalamnya.
Tapi apa yang mereka dapati ketika sampai disana? di mulut gua ada
sarang laba-laba yang sudah ada sebelum nabi Muhammad lahir. Di sana
mereka juga mendapatkan dua ekor burung merpati. Mereka sangat yakin
bahwa di dalam tidak ada orang. Dari kisah ini jelaslah peran laba-laba
untuk menyelamatkan nabi Muhammad dari kejaran orang-orang kafir.
Hewan yang harus/dianjurkan untuk dibunuh
Hewan yang membahayakan manusia dan sering hidup ditengah populasi
manusia, seperti ular, kalajengking. Hewan jenis ini dianjurkan untuk
dibunuh dalam kondisi apapun. Dalam sebuah hadist nabi pernah bersabda
“Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun
di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan
burung rajawali” (HR. Abu Daud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barang siapa berhasil membunuh seekor cicak
dengan sekali pukulan maka akan dicatat seratus kebaikan untuknya. Jika
ia berhasil membunuhnya dengan dua kali pukulan, maka kebaikannya akan
lebih sedikit dari yang pertama. Selanjutnya, jika ia berhasil
membunuhnya dengan tiga kali pukulan, maka kebaikannya akan lebih
sedikit dari yang kedua”.
Dalam haditsnya: Dari A’isyah beliau berkata:”Sesungguhnya Rosulullah
menceritakan kepada kami bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam ketika
dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrudz, tidak ada seekor hewan pun
melainkan berusaha memadamkan api, kecuali cicak.
Reptil ini malah meniu-niup api agar tidak padam, sehingga Rasulullah
memerintahkan untuk membunuhnya” (HR: Ahmad dan An-Nasa’i)
Adapun serangga atau hewan kecil lainnya, kalau memang membahayakan atau menimbulkan malapetaka, seperti nyamuk, hama burung, belalang, ulat dan tikus, maka boleh membunuhnya dan bahkan dianjurkan.
Jumat, 30 November 2012
Kamis, 29 November 2012
HAK ASASI Binatang Dalam Islam
Telah kita ketahui bersama, bahwa setiap makhluk memiliki haknya
masing-masing dan Islam talah memerintahkan kita untuk memberikan setiap
mereka haknya masing-masing. Dan tema kita pada kesempatan kali ini
adalah tentang hak binatang dalam islam. Dan di antara hak-hak binatang
adalah:
1.Hak penjagaan dan perlindungan
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال صلى الله عليه وسلم: نزل نبي من
الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأخرج متاعه من تحتها ثم أمر ببيتها فأحرق
بالنار فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:”Salah seorang Nabi berteduh di bawah pohon,
lalu digigit semut, maka dia mengeluarkan barang bawaannya dari bawah
pohon. Kemudian diperintahkan untuk membakar sarang semutnya. Maka Allah
mewahyukan kepada Nabi tersebut:”Kenapa tidak satu semut saja (yang
engkau bunuh)
Dalam hadits di atas ada penjagaan dan perlindungan terhadap sarang
semut dari kerusakan, seandainya Nabi tersebut membunuh satu semut yang
menggigitnya saja, Allah tidak akan mencelanya. Termasuk penjagaan
terhadap binatang adalah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
telah melarang untuk menjadikan bintang sebagai sasaran dalam melempar
(lempar lembing, memanah, menembak dll). Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma
pernah melewati beberapa pemuda dari kalangan suku Quraisy yang
menjadikan seekor burung atau ayam sebagai sasaran tembak dan mereka
membayar untuk setiap kali panahan yang meleset dari sasaran kepada
pemilik burung tersebut. Maka ketika mereka melihat Ibnu Umar
radhiyallahu’anhuma, mereka bercerai-berai meninggalkannya, lalu Ibnu
Umar radhiyallahu’anhuma berkata:
لعن الله من فعل هذا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من اتخذ شيئاً فيه الروح غرضا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat siapa saja yang
menjadikan makluk yang bernyawa sebagai sasaran. (memanah, menembak dan
lain-lain)”
Dan dalam hadits ini dan hadits-hadits yang lainnya ada penjealasan tentang hak binatang dalm penjagaanya.
2.Hak Pemeliharaan
Seorang wanita masuk ke dalam Neraka karena dia mengurung seekor
kucing sampai mati, karena dia tidak memberi makan dan juga tidak
memberinya meminum. Dan juga dia tidak melepaskannya supaya dia memakan
serangga (HR. al-Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati seekor onta yang
punggungnya menempel dengan perutnya (menunjukkan kurusnya), maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اتقوا الله في هذه البهائم المعجمة, فاركبوها صالحة, وكلوها صالحة ) رواه أبو داوود وابن خزيمه في صحيحة, وقال: قد لحق ظهره ببطنه.
“Bertaqwalah (takutlah) kepada Allah terhadap binatang yang kurus
ini, kemudian naikilah secara baik dan makanlah dagingnya secara
baik.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Shahihnya, dia
berkata:”Punggungnya telah jauh dari perutnya (gemuk))
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dahulu menjulurkan tempat minuman untuk kucing, maka
kucing itupun meminumnya. Hadits-hadits seperti ini dan yang semisalnya
menunjukkan tentang pemeliharaan Islam terhadap binatang. Berangkat dari
perhatian terhadap hak binatang dalam masalah pemeliharaan, sebagian
kaum Muslimin telah mewakafkan sebuah tempat yang dinamakan ”Wakaf
Kucing” yang mana mereka mempersiapkan makanan untuk kucing-kucing
tersebut, setiap pagi dan sore.
3.Hak Kasih Sayang
Islam telah menyayangi binatang, di dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu’anhuma, bahwa ada seorang laki-laki membaringkan seekor
kambing untuk disembelih, dan dia mengasah/menajamkan pisaunya di
dekatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
:” أتريد أن تميتها موتتين ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضيعها ” رواه الطبري واللفظ له.
“Apakah engkau ingin membunhnya dua kali? Kenapa tidak engkau tajamkan pisaumu menyembelihnya (Riwayat Imam ath-Thabari)
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم
في سفر فانطلق لحاجته فرأينا حمرة (طائر) معها فرخان فأخذنا فرخيها فجاءت
الحمرة فجعلت تعرش فجاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من فجع هذه بولديها
ردوا ولديها إليها.
Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata:”Kami dahulu
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah safar
(perjalanan), lalu beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Kemudian kami
melihat Hamroh (burung) bersama dengan kedua anaknya yang masih kecil,
lalu kami mengambil kedua anaknya. Maka datanglah burung itu dan dia
kebingungan mencari anaknya. Lalu datanglah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:”Siapakah yang membuat bingung
burung ini terhadap anak-anaknya? Kembalikanlah kedua anaknya
kepadanya.”
4.Hak Makan dan Minum
Setiap binatang memiliki hak dalam masalah makan dan minum, dan kita
telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang disiksa di Neraka karena
seekor kucing yang dikurungnya dan tidak diberi makan. Dan dari Abu
Huraiorah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
(بينما رجل يمشي فأشتد عليه العطش فنزل بئراً فشرب منها ثم خرج فإذا هو
بكلب يلهث، يأكل الثرى من شدة العطش قال: لقد بلغ هذا الكلب مثل الذي بلغ
بي، فملأ خفه ثم أمسكه بفيه ثم رقى فسقى الكلب فشكر الله له فغفر له قالوا:
يا رسول الله، وإن لنا في البهائم أجراً، قال: في كل كبد رطبة أجرا.
“Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan yang merasa sangat
kehausan, lalu dia turun ke dalam sumur dan meminum air dari sumur itu.
Kemudian dia keluar, tiba-tiba dia melihat anjing yang sedang
menjulurkan lidahnya dan menjilati tanah yang basah, karena sangat
kehausan. Dia berkata:”Anjing ini telah kehausan sebagaimana kehausan
yang aku rasakan” Maka dia memenuhi khuff nya (sepatu kulit), lalu
mengigitnya dengan mulutnya dan dia naik keluar dari sumur, lalu memberi
minum anjing tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji laki-laki
itu dan mengampuninya. Mereka (para Sahabat radhiyallahu’anhum)
berkata:”Wahai Rasulullah, (apakah) kami mendapatkan pahala ktika
berbuat baik terhadap binatang? Beliau menjawab:”Pada setiap jiwa yang
bernyawa ada pahalanya”.
5.Hak untuk tidak Dizhalimi
Termasuk hak binatang adalah untuk tidak menzhaliminya, Imam Malik
berkata:”Sesungguhnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah
melewati seekor keledai yang membawa batu bata mentah (tanah liat yang
belum dibakar) di atas pungungnya punggungnya, maka beliau radhiyallahu
‘anhu mengangkat dua batu bata tersebut dari punggung keledai itu. Lalu
datanglah kepadanya perempuan pemilik keledai, dan berkata:”Wahai Umar
apa urusanmu dengan keledaiku? Apakah engkau memiliki wawanang
terhadapnya? Umar menjawab:”Tidak ada yang menghalangiku untuk ikut
campur dalam masalah ini” Dan beliau juga berkata:”Sungguh, seandainya
ada seekor keledai yang terpeleset di Iraq, pasti Umar akan ditanya
tentangnya:”Kenapa tidak engkau baguskan (ratakan) jalan untuknya wahai
Umar?
Dan Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seorang laki-laki
membebankan kepada ontanya dengan beban yang tidak mampu untuk
dibawanya, maka beliau radhiyallahu ‘anhu memukulnya dan berkata:”Kenapa
engkau membebani ontamu dengan beban yang dia tidak mampu membawanya?
6. Hak Penjagaan dari Sakit
Islam telah menetapkan bagi binatang hak penjagaan dari terjangkiti
penyakit-penyakit yang menular. Yang termasuk petunjuk Islami dalam hal
ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
(لا يوردن ممرض مصح)
“Jangan dicampurkan mumridh dengan yang sehat.”
“Jangan dicampurkan mumridh dengan yang sehat.”
“mumridh”adalah onta sakit yang menularkan penyakitnya kepada onta
yang lain, maka petunjuk Nabi untuk tidak mencanpurkan onta yang sakit
dengan onta-onta yang sehat adalah supaya penyakit tersebut tidak
menular ke onta yang sehat –dengan Izin Allah-. Dan ini adalah hak
binatang untuk dijaga dari penularan penyakit.
7. Hak Menadapatkan Lingkungan Bersih
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan berbuat kerusakan di muka Bumi, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan berbuat kerusakan di muka Bumi, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
(ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها)
“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya.”(al-A’raaf:56)
Merupakan bentuk perusakan di muka Bumi adalah pencemaran air, tumbuhan, udara dan tanah. Ketika Islam melarang perbuatan tersebut, maka itu adalah untuk menjaga binatang dari pencemaran air, udara dan tumbuhan. Ini adalah hak setiap makhluk.
Merupakan bentuk perusakan di muka Bumi adalah pencemaran air, tumbuhan, udara dan tanah. Ketika Islam melarang perbuatan tersebut, maka itu adalah untuk menjaga binatang dari pencemaran air, udara dan tumbuhan. Ini adalah hak setiap makhluk.
8.Hak untuk tidak dirubah Fisiknya
Islam telah mengharamkan memberi tanda binatang (dengan ditato) di
wajahnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang
yang memukul atau mentato wajah binatangnya. Para ahli fikif telah
menyebutkan bahwa memotong ekor bianatang (yang masih hidup) adalah
salah satu sebab yang membolehkan adanya Ta’zir (hukuman ). Sebagaimana
tidak diperbolehkan memutus urat nadi, memotong atau kay (pengobatan
dengan menempelkan besi panas) terhadap binatang tanpa alas an, karena
perbuatan tersebut memperburuk fisik binatang, dan barang siapa yang
berbuat demikian maka wajib membayar jaminan.
Itulah perhatian Islam dalam memberikan hak kepada setiap pemiliknya
masing-masing. Jangankan manusia binatang pun Islam memerintahkan kepada
pemeluknya untuk memberikan hak kepada binatang. Kalau terhadap
binatang saja Isalm memperhatikan hak-hak mereka, maka bagaiman kiranya
dengan manusia? Tentunya Islam sangat memperhatikan hak-hak mereka.
Adapun sikap dan tingkah laku sebagian kaum Muslimin yang tidak
memberikan hak-hak kepada para pemiliknya, bukanlah alas an untuk mnuduh
Islam sebagai agama kekerasan dan ketidak adilan, karena kesalahan
sebagian kaum Muslimin tidak menunjukkan kesalahan ajarannya,akan tetapi
kesalahan terletak pada jauhnya kaum Muslimin dari ajaran agamnya yang
benar. Dan ini sekaligus bukti dan bantahan kepada orang-orang yang
menuduh Islam sebagai agama kekerasan dan mengajarkan teorisme. Wallahu
A’lam.
(Sumber: من حقوق الحيوان في الإسلام oleh:Dr. Nazhami Kholil Abu al-‘Athaa. Diterjemahkan dengan perubahan oleh Abu Yusuf Sujono)
Label:
Binatang dalam Islam
7 Keajaiban Dunia Menurut Islam
7 Keajaiban Dunia Menurut Islam
7 Keajaiban Dunia versi dunia sudah sering kita dengar/baca. Bagaimana dengan 7 keajaiban versi Islam? Berikut daftarnya.
1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.
Label:
Binatang dalam Islam,
Kisah Islam
Imam al-Ghazali Tentang Keutamaan Ilmu 1
Imam al-Ghazali Tentang Keutamaan Ilmu 1
Firman Allah Azza Wa jalla:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang
berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)…” (Ali
‘Imran:18)
Maka lihatlah bagaimana Alah SWT memulai dengan diriNya, keduanya dengan malaikat dan ketiganya dengan orang-orang ahli ilmu.
Dengan ini cukuplah bagimu (untuk mengetahui) kemuliaan, keutamaan, kejelasan dan kelebihan orang-orang ahli ilmu’
Dengan ini cukuplah bagimu (untuk mengetahui) kemuliaan, keutamaan, kejelasan dan kelebihan orang-orang ahli ilmu’
Allah Ta’alan berfirman:
“…… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat…..” (Al Mujadilah:11)
Ibnu Abbas ra berkata : “Para ulama memperoleh beberapa derajat di
atas kaum mu’minin dengan tujuh ratus derajat yang mana antara dua
derajat itu perjalanan lima ratus tahun.
Dan Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
“….. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama….” (Fathir:28)
“….. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab” (Ar Rad:43)
” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip……” (An Naml:40)
” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang
besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang
beriman dan beramal saleh,……” (Al Qashash:80)
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada
yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al Ankabut:43)
“………. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di
antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya
(akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) ……….” (An
Nisa’ : 83)
” Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian
takwa ……..” (Al A’raf:26)
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran)
kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan
Kami……..” (Al A’raf:52)
” maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang
telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka),……..”
(Al A’raf:7)
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu ………” (Al Ankabut:49)
“Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara” (Ar Rahman:3-4)
.
Hadist-hadits
Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah
menjadikannya ia pandai mengenai agama dan ia diilhami PetunjukNYa
[Muttafaq 'alaih]
Ulama itu adalah pewaris para Nabi [Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]
“sesuatu yang di langit dan bumi itu memohonkan ampunan bagi orang ‘alim (pandai)” [Abu Darda']
sesungguhnya hikmah (ilmu) itu menambah orang yang mulia akan
kemuliaan dan mengangkat hamba sahaya sehingga ia mencapai capaian
raja-raja. [Abu Na'im dalam Al Hilyah, Ibnu Abdil Barr dalam Bayaul
Ilmi, dan Abd. Ghani dalam Adabul Muhaddits dari hadits Anas dengan
sanad yang lemah]
Dua pekerti tidak terdapat di dalam orang munafik, yaitu perilaku
yang baik dan pandai dalam agama [H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia
mengatakan hadits gharib]
Seutama-utama manusia adalah orang mu’min yang’alim (pandai) yang
jika ia dibutuhkan maka ia berguna, dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia
mencukupkan dirinya.” [Al Baihaqi dalam Syu'bul Iman mauquf pada Abu
Darda' dengan sanad yang lemah]
Iman itu telanjang, pakaianya adalah takwa, perhiasannya adalah malu,
dan buahnya adalah ilmu [Al Hakim dalam Tarikh Naisabur dari hadits Abu
Darda' dengan sanad yang lemah]
Orang yang paling dekat dari derajat kenabian adalah ahli ilmu dan
jihad (perjuangan). Adapun ahli ilmu maka mereka menunjukkan manusia
atas apa yang dibawa para rasul, sedangkan ahli jihad maka mereka
berjuang dengan pedang (senjata) mereka atas apa yang dibawa oleh para
rasul [Abu Na'im dalam Fadhlul 'alim al 'afif 'dari hadits Ibnu Abbas
dengan sanad yang lemah.]
sungguh matinya satu kabilah itu lebih ringan dari pada matinya
seorang ‘alim [Ath Thabrani dan Ibnu Abdil Barr dari hadits Abu Darda']
Manusia itu adalah barang tambang seperti tambang emas dan perak.
Orang-orang pilihan mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang pilihan
mereka di masa Islam apabila mereka pandai [Muttafaq 'alaih]
Pada hari Kiyamat tinta ulama itu ditimbang dengan darah orang-orang
yang mati syahid [Ibnu Abdil Barr dari Abu Darda'dengan sanad yang
lemah]
Barang siapa yang memelihara empat puluh buah hadits dari As Sunnah
atas ummatku sehingga ia menunaikannya kepada mereka maka aku akan
menjadi pemberi syafa’at kepadanya dan saksinya pada hari Kiyamat [Ibnu
Abdil Barr dalam al 'Ilm dari hadits Ibnu Umar dan ia'melemahkannya.]
Barang siapa dari ummatku menghafal empat puluh buah hadits maka ia
bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiyamat sebagai seorang
faqih yang ‘alim [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dan ia melemahkannya]
Barang siapa memahami tentang agama Allah ‘Azza Wa Jalla maka Allah
Ta’ala mencukupinya akan sesuatu yang menjadi kepentingannya dan Dia
memberinya rizki dari sekiranya ia tidak memperhitungkannya [Al Khathib
dalam Tarikh dari hadits Abdullah bin Juz - Az zabidi dengan sanad yang
lemah]
Allah ‘Azza wa Jalla memberi wahyu kepada Ibrahim as : “Hai Ibrahim,
sesungguhnya Aku Maha Mengetahui, Aku senang kepada setiap orang yang
pandai [Dituturkan oleh Ibnu Abdil Barr sebagai komentar]
Orang pandai adalah kepercayaan Allah Yang Maha Suci di atas bumi [Ibnu Abdil Barr dari Mu'adz dengan sanad yang lemah]
Dua golongan dari ummatku apabila mereka baik maka manusia baik, dan
apabila mereka rusak maka manusia rusak, yaitu para pemegang
pemerintahan dan para ahli fiqh [Ibnu Abdil Barr dan Abu Na'im dari
hadits Ibnu Abbas.]
Apabila datang hari kepadaku padanya saya tidak bertambah ilmu yang
mendekatkan saya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla maka saya tidak mendapat
berkah pada terbitnya matahari hari itu [Ath Thabrani dalam Al Ausath
dan Abu Na'im dalam Al Hilyah, dan Ibnu Abil Barr dalam Al 'Ilm]
Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti
keutamaanku atas orang yang paling rendah dari shahabatku [At Tirmidzi
dari hadits Abu Umamah]
Kelebihan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti kelebihan
bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang [Abu Dawud, At
Tirmidzi, An Nasa'i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu
Darda' yang terdahulu]
Pada hari Kiyamat tiga macam orang memberi syafa’at yaitu: para Nabi,
para ulama kemudian orang-orang yang mati syahid [Ibnu Majah dari
hadits Utsman bin 'Affan dengan sanad yang lemah]
Tidaklah Allah Ta’ala disembah dengan sesuatu yang utama dari pada
pemahaman terhadap agama. Sungguh seorang faqih itu lebih berat atas
syaithan dari pada seribu orang ahli ibadah. Setiap sesuatu itu
mempunyai tiang, dan tiang agama ini adalah fiqh [Ath Thabrani dalam Al
Ausath, Abu Bakar Al Ajiri dalam Fadhlul 'ilmi, dan Abu Na'im dalam
Riyadhatul Muta'allimin dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang
lemah]
Sebaik-baik agamamu adalah yang termudahnya, dan sebaik-baik ibadah
adalah fiqh (pemahaman) [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad
yang lemah]
Keutamaan mu’min yang ‘alim atas mu’min yang ahli ibadah adalah
dengan tujuh puluh derajat [Ibnu Adi dari Abu Hurairah dengan sanad yang
lemah]
Sesungguhnya kamu menjadi dalam masa yang banyak ahli fiqhnya,
sedikit qurra’ (ahli baca Al Qur’an) nya dan ahli pidatonya, sedikit
orang yang meminta-minta dan banyak orang yang memberinya. Amal padanya
adalah lebih baik dari pada ilmu. Dan akan datang kepada manusia masa
yang sedikit ahli fiqhnya, banyak juru pidatonya, sedikit orang yang
memberinya, banyak orang yang meminta-minta. Ilmu pada masa itu lebih
baik dari pada amal [Ath Thabrani dari hadits Hizam bin Hakim dari
pamannya, ada yang mengatakan dari ayahnya, sanadnya lemah]
Antara orang yang ‘alim dan orang yang beribadah adalah seratus
derajat, antara setiap dua derajat itu ditempuh kuda pacuan yang dilatih
selama tujuh puluh tahun [Al Ashfihani dalam At Targhib wat Tarhib,
dari lbnu Umar dari ayahnya]
Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, amal-amal apakah yang lebih utama ?”
Beliau bersabda : “Ilmu tentang Allah ‘Azza Wa Jalla” Lalu ditanyakan :
“IImu apakah yang engkau kehendaki ?”. Beliau SAW bersobds : “Ilmu
tentang Allah ‘Azza Wa Jalla”. Lalu dikatakan kepadanya : “Kami bertanya
mengenai amal sedangkan engkau menjawab mengenai ilmu”. Maka beliau SAW
bersabda : “Sesungguhnya amal sedikit disertai ilmu (mengetahui)
tentang Allah itu berguna dan banyaknya amal serta bodoh mengenai Allah
itu tidak berguna [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad yang
lemah]
Allah Yang Maha Suci poda hari Kiyamat membangkitkan hamba-hamba
kemudian Dia membangkitkan ulama kemudian Dia berfirman : “Wahai
golongan ulama, sesungguhnya Aku tidak meletakkan ilmuKu padamu kecuali
karena Aku mengetahui tentang kamu, dan Aku letakkan ilmuKu padamu agar
Aku tidak menyiksamu, pergilah karena Aku telah memberi ampunan
kepadamu”. [Ath Thabrani dari hadits Abu Musa dengan sanad yang lemah]
.
Atsar-atsar
Adapun atsar (kata-kata shahabat), Ali bin Abi Thalib ra berkata kepada Kumail :
“Hai Kumail, ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim, sedangkan harta adalah yang dihakimi. Harta menjadi berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan dibelanjakan (diberikan kepada orang lain)”.
Ali ra juga berkata :
“Orang yang ‘alim itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, berdiri ibadah malam dan berjuang. Apabila seorang ‘alim meninggal maka berlobanglah dalam Islam dengan suatu lobang yang tidak tertutup kecuali oleh penggantinya”.
Dan ia ra berkata dalam bentuk syair (nazham) :
Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahli ilmu, sesungguhnya mereka di
atas petuniuk, dan mereka penunjuk orang yang minta petuniuk. Nilai
setiap orang adalah sesuatu yang meniadikannya baik, sedangkan
orang-orang bodoh itu musuh ahli ilmu. Maka carilah kemenangan kamu
dengan ilmu, dengon ilmu itu kamu hidup selamanYa, munusiq itu mati,
sedangkan ahli ilmu itu hidup
.
Abul Aswad berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu. Para raja itu memerintah manusia (orang kebanyakan), sedangkan para ahli ilmu itu memerintah para raja”.
Ibnu Abbas ra berkata : “Sulaiman bin Dawud as disuruh memilih antara ilmu, harta dan kerajaan maka beliau memilih ilmu, lalu beliau diberi harta dan kerajaan”.
Ibnul Mubarak ditanya : “Siapakah manusia itu” Ia menjawab : “Para ulama”. Ditanyakan lagi : “Siapakah para raja itu ?”. Ia menjawab : “Orang-orang yang zuhud”. Ditanyakan lagi : “Siapakah orang rendahan itu ?” Ia menjawab : “Orang-orang yang memakan dunia dengan agama”.
Ia tidak memasukkan orang yang tidak berilmu ke golongan manusia
karena kekhususan yang membedakan manusia terhadap seluruh hewan adalah
ilmu. Maka manusia adalah manusia yang menjadi mulia karena ilmu.
Kemuliaan itu bukan karena kekuatan dirinya karena unta itu lebih kuat
dari padanya. Dan bukan karena besarnya, karena gajah itu lebih besar
dari padanya. Dan bukan karena beraninya karena binatang buas itu lebih
berani dari padanya. Bukan karena makannya karena lembu itu lebih besar
perutnya dari pada perutnya. Dan bukan karena bersetubuhnya karena
burung pipit yang paling rendah itu lebih kuat untuk bersetubuh dari
padanya. Bahkan manusia itu tidak dijadikan (tidak diciptakan) kecuali
karena ilmu.
Fathul Maushuli rahimahullah berkata : “Bukankah orang sakit apabila dicegah makan, minum dan obat maka ia mati ?’,. Mereka (orang-orang) menjawab : “Ya”. Ia berkata : “Demikian juga hati, apabila dicegah dari padanya hikmah dan ilmu selama tiga hari maka hati itu akan mati”. Ia benar’karena makanan hati adalah ilmu dan hikmah, dan dengan keduanyalah hidupnya hati sebagaimana makanan tubuh adalah makanan.
Barangsiapa yang tidak mendapat ilmu maka hatinya sakit sedangkan
matinya itu pasti. Tetapi ia tidak merasakannya karena cinta dan sibuk
dengan dunia itu mematikan perasaannya sebagaimana takut itu
kadang-kadang meniadakan sakitnya luka seketika, meskipun luka itu masih
ada. Apabila kematian telah menghilangkan bebanan-bebanan dunia maka ia
merasakan kebinasaannya dan ia menyesal dengan sesalan yang besar namun
sesalan itu tidak berguna baginya.
Itu seperti perasaan orang yang aman dari takutnya, dan orang yang
sadar dari mabuknya terhadap lukaJuka yang dideritanya dalam keadaan
mabuknya atau dalam keadaan takut. Maka kita mohon perlindungan kepada
Allah pada hari dibukanya tutup. Sesungguhnya manusia itu tidur,’apabila
mati maka mereka jaga (bangun).
Al Hasan rahimahullah berkata : “Tinta ulama itu ditimbang dengan darah syuhada, maka tinta ulama itu unggul atas darah syuhada”.
Ibnu Mas’ud ra berkata : “Wajib atasmu untuk berilmu sebelum ilmu itu diangkat, sedangkan diangkatnya ilmu adalah matinya perawi-perawinya. Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu sebagai syuhada’ itu senang dibangkitkan oleh Allah sebagai ulama karena kemuliaan ulama yang mereka lihat. Sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan sebagai orang yang berilmu, namun ilmu itu dengan belajar”.
Ibnu Abbas ra berkata : “Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai dari pada menghidupkan malam itu (dengan shalat dan sebagairlo : pent)”. Demikian juga dari Abu Hurairah ra dan Ahmad bin Hambal rahimahullah.
Al Hasan berkata mengenai firman Allah Ta’ala : wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (Al Baqarah : 201). Bahwasanya kebaikan di dunia itu adalah ilmu dan ibadah, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga.
Ditanyakan kepada sebagian hukama : “Barang apakah yang selalu mengikuti (pemiliknya) ?”. Ia berkata : “Barang yang mana apabila kapalmu tenggelam maka kamu berenang bersamanya, yaitu ilmu”.
Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya badan karena mati.
Sebagian mereka berkata : “Barang siapa mengambil hikmah (ilmu)
sebagai kendali maka manusia menjadikannya sebagai pemimpin. Dan barang
siapa mengetahui hikmah maka ia dipandang oleh semua mata dengan
penghormatan”.
Asy Syafi’i ra berkata : “Termasuk kemuliaan ilmu adalah setiap orang yang dikatakan berilmu walaupun mengenai sesuatu yang remeh maka ia bergembira dan barang siapa yang (dikatakan) tidak memiliki ilmu maka ia bersedih”.
Umar ra berkata : “Wahai manusia, wajib atasmu untuk berilmu. Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memiliki selendang yang dicintaiNya. Barangsiapa menuntut satu bab dari ilmu maka Allah menyelendanginya dengan selendangnya. Jika ia berbuat dosa maka ia agar memperbaikinya tiga kali agar selendangnya itu tidak dilepas dari padanya, meskipun dosanya itu berkepanjangan sehingga ia meninggal”.
Al Ahnaf rahimahullah berkata : “Ulama itu hampir-hampir sebagai Tuhan, dan setiap kemuliaan yang tidak dimantapkan oleh ilmu maka akhirnya menjadi hina”.
Salimbin Abil Ja’d berkata:”Tuanku membeliku dengan tiga ratus dirham dan ia memerdekakan saya”. Lalu saya berkata : Dengan apakah saya bekerja ?”. Maka saya bekerja dengan ilmu dan tidak genap setahun bagiku sehingga datanglah amir Madinah kepadaku dan saya tidak mengizinkan baginya”.
Az Zubair bin Abu Bakar berkata : “Ayahku di Irak berkirim surat kepadaku, “wajib atasmu berilmu. Jika kamu fakir maka ilmu itu menjadi hartamu. Dan jika kamu kaya maka ilmu itu menjadi keindahan bagimu”.
Demikian itu dihikayatkan juga dalam wasiyat-wasiyat Luqman kepada anaknya, ia berkata :
“Hai anakku, duduklah pada ulama dan merapatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesunguhnya Allah Yang Maha Suci menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dengan hujan dari langit”.
Sebagian hukama’ berkata : “Apabila orang’alim meninggal maka ia
ditangisi oleh ikan di air, dan oleh burung di udara, ia hilang tetapi
sebutannya tidak dilupakan penyebutannya.
Az Zuhri rahimahullah berkata : “Ilmu jantan, dan tidak menyintainya kecuali orang laki-laki yang jantan”.
.
wallahu a’lam
Label:
hadis
Langganan:
Komentar (Atom)
